Cerpen Kazami - Lifestyle Blogger Medan dan Food Blogger Medan

Selasa, 01 Maret 2016

Cerpen Kazami

    Akanku hentikan rasa ini jika kau pergi setelah membekas di hati.

         Aku tidak pernah menginginkan siapapun yang masuk dan menempati hatiku sejak dulu. Sengaja, hari-hari ini kuisi dengan kekosongan dan hal yang membosankan. Aku takut, jika kehancuran hidup itu akan datang.

Kazami. Tuhan mempertemukan kami dengan latar belakang yang berbeda. Pria itu berusaha membobol pintu pertahananku. Sejak pertemuan kami di musim semi tahun lalu, Ia berusaha terus menerus meluluhkan hati ini agar mau menjadi objek lukisannya.

           Pria yang tengah menyelesaikan tugas kuliahnya itu sangat gencar dan terpaku pada lekuk wajahku. Katanya, unik dan berbeda dari gadis Jepang lainnya. Tentu saja, karena aku bukanlah gadis asli Jepang. Beberapa tahun lalu, Tuhan mengirimku di negeri sakura ini. Untuk hidup mandiri dan mulai merubah diri.

          Aku membenci orang baru. Iya, pria itu terus saja menguntitku kemanapun. Rasanya, kesal. Tuhan juga sepertinya menginginkanku untuk terus bertemu dengan lelaki jangkung dan berkumis tipis itu. Gayanya sembarang. Seperti seniman jalanan.

          Entah. Entah apa yang bisa membuatku luluh. Hingga akhirnya, aku mengangguk pasrah. Aku berharap semoga lukisan yang di inginkannya cepat selesai, dan aku? Bebas dari gangguannya. Waktu berjalan, searah dengan kisah yang kami alami. Aku mulai tersentuh, saat Kazami pria yang hanya kupandang pemuda urakkan menuntunku melihat dunia yang sesungguhnya.

            Pria itu memiliki hampir lima puluh anak didik yang rata-rata ia temui karena khasus kriminal. Kazami, tidak ingin di Japan semangkin banyak khasus kriminal apalagi pelakunya pemuda dan anak-anak kecil. Oleh karena itu ia rela menghabiskan separuh waktunya untuk mengajari anak didiknya dan memberikan mereka lapangan kerja sendiri dengan cara melukis.

           Aku mulai memahami sifat pria ini. Dia tidak seburuk penampilannya, aku kagum sangat kagum. Lukisan dengan gurat wajahku hampir selesai. Tapi, aku tidak menginginkan ini? Ada apa denganku? Bukankah ini waktu yang ku tunggu-tunggu? Kazami berhasil menepati dirinya di hati ini.

           Saat bersamanya aku merasa banyak hal yang telah ia ajarkan padaku. Hal kelembutan, rasa, dan kehidupan. Pria itu mengubahku perlahan. Aku mulai menjadi gadis yang terbuka tidak menutup diri dari dunia. Aku mulai bisa tertawa lepas walau awalnya Kazami memanggilku Nona Robort. Karena hidupku yang penuh dengan kekakuan dan keseriusan.

           Kazami, memberikanku pengetahuan bagaimana menjadi orang yang hidup dengan warna berbeda namun tetap cantik dan indah di lihat. Ia mengatakan jika aku terus menerus hidup dengan satu warna, maka kehidupanku hanya membawa duka.

           Pria itu benar, Aku terlalu takut untuk membuka diri. Aku terlalu memikirkan apa yang belum terjadi. Hingga aku lupa akan warna yang indah. Aku hanya terpaku pada satu warna, yaitu pemikiran yang kaku dan belum pasti.

           Kazami, sosok itu memaksaku untuk menelusuri tempat dimana ia sering mencari inspirasi. Aku kehilangannya setelah lukisan itu selesai. Kemana Kazami? Mata ini terus mencari menelusuri lorong-lorong taman di pusat kota Jepang. Sudah beberapa hari tak kutemukan pria itu. Pria yang biasanya menenteng kanvas dan menggendong ransel yang berisi puluhan cat warna.

           Ku putuskan, mencari pria itu di tempat anak didiknya. Hasilnya sama, ia tidak ada. Tapi, gadis kecil memberikanku selembar surat. Dengan lucu ia mengatakan itu surat dari Kazami San.

"Nona Robot. Terimakasih telah membantuku menyelesaikan lukisan ini. Kini, Aku telah menyelesaikan study yang pertama. Terimakasih banyak. Maaf aku tidak sempat menemuimu. Karena selesai wisuda. Aku akan pergi ke Jerman bersama Yui Kazama. Oh iya. Aku lupa menceritakan Yui padamu. Dia tunanganku, sekarang aku akan menikah dengannya karena study sudah selesai. Terimakasih banyak Nona Robot berkat kau aku lulus dengan baik. Aku hanya ingin kau menggantikanku mendidik anak-anak itu jika kau mau. Dan semoga hidupmu semangkin berwarna ya. Ingat, hidup dengan satu warna hanya membawa duka."

            Damn. Aku merasa dunia ini kosong, warna yang mulai menggoresi hidupku perlahan terhapuskan. Inikah warna itu? Kazami pergi setelah ia berhasil melukiskan warna pelangi di hati ini. Akanku hentikan rasa jika pelangi itu pergi setelah membekas di hati. Kini aku hanya mampu menyesap perlahan secangkir teh di musim salju. Menyesap satu persatu kepedihan yang tidak mungkin mudah di hapuskan seperti goresan halus pensil di kanvas putih.
Medan, 29 Februari 2016.

#Ceritagadiskecil

Tidak ada komentar:

@way2themes