Lifestyle Blogger Medan - Stalking Bos - Lifestyle Blogger Medan dan Food Blogger Medan

Sabtu, 29 September 2018

Lifestyle Blogger Medan - Stalking Bos

Cerpen Terbaik Tentang Kerja

Lifestyle Blogger Medan - Aku yakin! Setiap orang memiliki mimpi dan keinginan, yang tak semua orang mau memahami itu. Aku tak tau, bagaimana bisa, minda memiliki hasrat untuk menuliskan secuil kisah, yang mungkin tak semua orang ingin membaca. Baiklah! Aku akan bercerita tentang mimpi orang lain. Ya, mimpi orang lain bukan mimpiku.

Dulu aku pernah membuat sebuah film berjudul klasik. Ya, film pendek berjudul Amanah. Film itu aku garap bersama teman-teman di masa putih abu-abu. Film yang kugagas dengan balutan kisah tentang pengorbanan. 

Entah darimana, jari-jemari ini memiliki tenaga untuk membuat sebuah kisah konyol, kisah yang ditertawakan dan direndahkan saat penilaian film itu berlangsung. Cukup konyol memang. Bagaimana mungkin, di dunia ini ada orang yang mau mengorbankan mimpinya demi orang lain?

Kamu boleh tertawa dengan cerita konyol itu. Seorang guruku juga berkata, “Mana ada orang yang mau merelakan mimpinya demi orang lain?”. Ya, itu adalah haknya sebagai seorang guru untuk mencerca kelogisan cerita yang kubuat. Tapi, apakah ada hal yang mustahil di dunia ini? Aku dan kamu sepakat untuk menggelengkan kepala, memberikan ketidak setujuan.

Film itu seperti sebuah doa. Allah mewujudkannya. Aku sang pembuat cerita itu, kini dicoba untuk melakoni karakter yang telah kubuat. Karakter Keyla, seorang gadis yang merelakan mimpinya demi mimpi orang lain. Sekarang, aku mulai merasa konyol. Benar, di dunia ini tidak ada yang mustahil. Film yang awalnya kubuat hanya sebagai karangan, kini Allah mengujiku dengan apa yang telah kubuat.

Semua berawal dari kepustusanku untuk menunda pendidikan dan memilih bekerja di suatu perusahaan. Aku tamatan rendah yang beruntung bisa berada di posisi yang lumayan baik. Pekerjaan dan dunia baru, mulai kulakoni dengan sepenuh hati. Aku merasa lebih berguna dari hari-hari sebelumnya. Bekerja dengan gaji yang tak seberapa, menuntutku untuk bersyukur. Pasalnya, Allah lagi-lagi menguji dengan apa yang telah kuperbuat. 

Buku Keja Bukan untukUang, buku yang kutulis untuk membantah pemikiran bahwa kerja sekedar mencari uang. Kala itu, aku menulisnya ketika belum merasakan dunia bekerja. Lalu, sekarang, aku sudah merasakan dunia kerja. Memang tak mudah dan tak dapat dipungkiri, bekerja ya untuk mencari uang. Tapi, aku membantah itu dengan menahan diri untuk tidak hitung-hitungan dalam bekerja.

Aku bekerja seperti layaknya seorang pekerja, pergi pagi pulang sore memang sangat melelahkan, apalagi menjadi karyawan baru untuk berdaptasi itu sungguh tak mudah. Aku mulai mencoba memahami dunia baruku. Mengenal satu persatu rekan kerjaku. Namun, aku tak begitu mengenal atasanku. Ya, bosku pemiliki perusahaan ini. Sesekali saja, saling menyapa namun tak ada obrolan atau perkenalan yang begitu serius.

 Aku memiliki kebiasaan untuk mengenal orang-orang di sekitarku dengan mengintip sosial media pribadi mereka. Mungkin, itu caraku karena aku terlalu enggan untuk berkenalan langsung. Menurutku, sosial media adalah jati diri mereka sebenarnya. 

Sosial media, membantuku mengenal bagaimana orang itu tubuh dari tahun ke tahunnya. Aku ingin mengenal, untuk siapa aku bekerja dan bagaimana aku harus bekerja. Aku mengetahui nama beliau, sosok atasan yang kulihat tak banyak bicara, tegas dan cukup tenang dalam mengatasi berbagai problema. Aku melihatnya ia sosok yang cukup tenang, namun entahlah bagaimana yang lain memandangnya.

Aku dan beliau mungkin tak memiliki banyak waktu untuk berkenal satu sama lain. Saat ini, mungkin ia hanya mengenalku sebatas nama. Namun, aku tidak bisa bekerja untuk seseorang yang tak aku kenal. Muncul lah sebuah keputusan, tanpa mengurangi rasa hormat dan berkmasud lancang. Aku mencari akun sosial media beliau. 

Membaca setiap postingan dari tahun ke tahun. Aku mulai sedikit mengenalnya. Selain, sosok atasan yang cukup tenang dalam menghadapi permasalahan, ia sosok atasan yang memiliki mimpi-mimpi yang berusaha dibangunnya. 

Aku merasa tersentuh, setiap postingan yang dituliskannya di sosial media, memberikanku energi lebih besar untuk bekerja lebih baik. Aku memiliki banyak mimpi yang belum terwujud. Mungkin juga, dengan beliau ada banyak daftar mimpi yang belum diwujudkannya tapi orang lain tak mengerti itu.
          
Aku mengerti bagaimana sebuah proses mewujudkan setiap mimpi yang masih tertulis di daftar mimpi. Aku mengerti proses itu tak mudah. Aku mengerti, mimpi beliau akan lebih mudah diwujudkan, jika kami sebagai karyawannya mengerti soal mimpinya. Mungkin, sebagaian orang menganggap ini pemikiran bulshit atau munafik bahkan penjilat. 

“Toh, yang punya mimpi beliau, yang bakal sukses juga beliau, untuk apa bersusah payah membantu beliau menwujudkan  mimpinya?” 

Ya, memang terdengar konyol. Untuk apa berpusing-pusing memikirkan dan membantu mimpi orang lain? Bukankah mimpi dan keberhasilan sendiri belum tercapai? Namun, entah kenapa. Tidak denganku, aku merasa penting ikut membantu mewujudkan mimpi beliau. Mungkin ini, sugesti dari sebuah cerita yang telah kukarang sebelumnya.

Cerita Keyla yang membiarkan mimpinya lenyap demi mimpi orang lain. Namun, bukan berarti membantu orang lain mewujudkan mimpi mereka, kita akan kehilangan mimpi kita. Tidak, itu salah besar. Bukannya, seorang yang hebat adalah orang yang ikut terlibat dalam kehebatan orang lain?

Aku yakin dengan sebuah kalimat diucapkan Keyla dalam film pendek yang telah kubuat sebelumnya.

 “Aku yakin jika membantunya mewujudkan mimpi, maka suatu saat nanti ia dan Allah akan membantuku mewujudkan mimpi. Hingga sama-sama kami mencapai apa yang kami mau,"

 Mimpi beliau menjadi semangat kerjaku. Berusaha melakukan yang terbaik seperti apa yang diinginkannya, membantunya mewujudkan segala rencana. Meski aku hanya sebagaian kecil dari perjuangannya. Satu hal yang ingin kujaga, jika aku tak bisa membantunya, jangan sampai aku merepotkannya. Jika ia kecewa, maka aku merasa gagal membantunya. Over All, aku berharap ia dipertemukan dengan orang-orang yang dapat memahami mimpinya. Bertemu dengan orang-orang yang tak sekedar menjadikan pekerjaan adalah mencari uang. 

Aku berharap beliau dipertemukan dengan orang-orang yang dapat memahami mimpinya. Bertemu dengan orang-orang yang juga memiliki ambisi untuk meraih mimpi. Aku yakin, jika kita tak sungkan mempermudah dan membantu setiap langkah orang-orang yang memiliki mimpi dan ambisi. Percayalah, Allah akan mempermudah langkah dan ambisi kita mencapai mimpi yang kita inginkan. Aku yakin! Kelak, akan ada orang yang tulus mau membantuku mewujudkan mimpi.

Stalking tidak selamanya berkonotasi negatif, kita perlu memahami orang yang baru kita kenal melalui sosial media. Karena, sebagaian besar orang, sosial media adalah tempat ia membuka jati diri.


 #Ceritagadiskecil

Tidak ada komentar:

@way2themes