Lifestyle dan Food Blogger Medan: Remaja
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Desember 2018

Lifestyle Blogger Medan - Belajar dari Rasa Sakit
01.22 17 Comments
Dokumen by ceritagadiskecil.com

Lifestyle Blogger Medan - Gacil
 masih ingat persis bagaiman lelaki itu sepontannya mengeluarkan kata-kata menyakitkan. Entahlah, tak bisa dibayangkan lagi seperti apa keadaan hati saat itu. “Aku gak tau lihat si Gacil ini. Antara polos atau bego,” ucapnya membuat tawa mendadak terhenti. Sumpah, Gacil tak bisa katakan bagaimana perasaan itu. Walaupun lelaki itu bukan orang pertama kali yang menyelipkan luka-luka dalam, di hati Gacil. Terserah, jika di paragraph ini kamu menganggap Gacil lebay atau baperan. Tapi, tolong sejijik apapun kamu baca paragraph ini, hibur Gacil dengan menyelesaikan bacaanmu pada tulisan ini.

                Lanjut, Gacil hanya terdiam saat menerima kalimat dari lelaki, yang seharusnya dapat memproduksi kata-kata lebih etis daripada kata-kata yang hanya berdampak pada luka hati seseorang.  Saat kejadian itu, Gacil masih duduk di bangku SMK. Masih berpikiran seperti layaknya anak-anak yang begitu marah dan terkadang suka meratapi cemoohan orang lain. Tidak bisa dipungkiri, setelah lelaki itu mengatakan hal itu, Gacil terus kepikiran, Apa iya? Orang-orang melihat dan menilaiku sebagai orang bodoh? Apa seburuk itukah aku? Tak bisa Gacil pungkiri, sempat terteskan butiran bening untuk hal yang saat ini Gacil sadari itu tak berguna.

                Tidak hanya sampai di situ, perlakuan orang sekeliling Gacil yang menimbulkan rasa sakit terus saja ada. Lucu dan mirisnya, ketika Gacil hendak pergi untuk mengunjungi tempat Praktek Kerja Lapangan dari sekolah. Saat itu hanya ada tiga teman lelaki yang membawa kereta, dan dua orang guru dengan satu kereta. Gacil akui, Gacil tak bisa mengendarai kereta. Pada saat itu, guru Gacil meminta salah satu dari ketiga teman Gacil yang membawa kereta, untuk membonceng Gacil. Namun, tau gak? Hal menyakitkan yang harus Gacil dapatkan saat itu. Tak ada salah satu pun dari mereka yang mau memboceng Gacil, padahal mereka tidak membonceng siapa-siapa. Ketiganya mengeluarkan banyak alasan. Ban kereta yang kempeslah, baut yang kendor lah, ini dan itulah. Hingga Guru Gacil menggelengkan kepala, mereka nyerah. Akhirnya Gacil bonceng bertiga dengan guru Gacil.

                Hingga saat ini, Gacil terus bertanya-tanya. Kenapa? Apa sehina itukah Gacil? Seburuk rupa itukah? Sampai-sampai mereka berlaku seperti itu? Mengingat dan menuliskannya lagi dalam deretan paragraph ini, membuat mata Gacil kembali berkaca-kaca. Gacil tau, di Antara kamu akan terucap kalau Gacil sungguh lebay. Gacil tak perduli, meski Gacil paham masih banyak orang di luar sana, merasakan sakit yang lebih parah dari Gacil.

                Dalam tulisan ini, Gacil mau bilang, dari rasa sakit, Gacil belajar artinya Bangkit, dari rasa sakit, Gacil paham artinya menghargai. Dari rasa sakit juga, Gacil mampu memproduksi kalimat-kalimat positif. Teman-teman Gacil yang mungkin saat ini ada di posisi dan merasakan sakit. Ayo bangkit, Gacil yakin kamu lebih hebat dari mereka yang sudah menyakitkanmu. Ayo tuangkan amarahmu dalam kalimat positif, biarkan dan buatlah mereka yang pernah menancapkan luka di hatimu, terpekik melihat kehebatanmu yang mampu berkarya dan bangkit.

                Teman-teman, perjalanan delapan belas yang telah Gacil lalui, Gacil sangat bersyukur karena Allah memberikan banyak rasa sakit. Karena rasa sakit, Gacil mampu menulis dua buku yang Insya Allah akan menjadi tiga buku. Karena rasa sakit, Gacil lebih berhati-hati dalam berucap dan bersikap, Gacil tak mau karena lisan atau tingkah ini. Orang mengingat Gacil karena pernah menyakiti. Diam, Bangkit dan Buktikanlah. Merasakan rasa sakit bukanlah hal yang buruk. Jadikan itu anugrah-Nya, anggap rasa sakit itu, bahan bakarmu untuk berjuang menuju apa yang kamu mau. Terimakasih rasa sakit.

#Ceritagadiskecil

Reading Time:

Kamis, 15 November 2018

Influencer Blogger Medan - Hati-Hati dengan Jarimu
03.280 Comments
Dokumen by ceritagadisekecil.com

Influencer Blogger Medan - Aku masih belum paham apa yang terjadi. Bahkan saat aku memutuskan untuk menutup seluruh aktivitas dunia maya.

 “Sudahlah nak, gak perlu sedih seperti ini. Hal itu semua gak ada gunanya,” mama dengan mudah mengatakan hal itu. Padahal semua ini terjadi karenanya. Dia yang menghadirkan kebencian itu untukku.

 “Mama mudah banget bilang gitu. Mama apa gak malu? Ini semua karena mama,” Kulempar guling yang tengah kupeluk ke sembarang arah, beranjak dari ranjang menatap keramaian kota dari kamarku yang berada di lantai tiga. Mama diam, terduduk di pinggir ranjangku.

Kupandang awan-awan dari balik tirai jendela yang menutup jika malam hari. Matahari pagi, cahayanya menembus ke retina mata, memerintahkan pikiran untuk bangun dari duka yang terus menghujam. Sesekali aku menghela napas, sesak. Ini lebih menyesakan daripada sesaknya kehidupan Jakarta.

“Tiara,” mama memanggilku dengan suara lemah. Aku belum punya keberanian menoleh ke arahnya. Pasti. Bulir air matanya sudah tumpah karena kalimat kasarku tadi. Astaga, maaf ma. Aku hanya kesal. Kenapa Tuhan menghukumku karena kesalahan mama, kesalahan yang tak kuketahui dengan persis.

“Cukup nak, cukup kamu hukum mama dengan tindakkan kamu kemarin. Semua ini salah mama, tapi apa yang bisa mama lakukan? Mama bingung,” semakin kalimat perempuan itu terucap panjang. Dadaku semakin sesak, pikiran kembali memutar memori beberapa waktu yang lalu.

Sebuah pisau hampir mengiris tuntas pergelangan tanganku. Siapa yang sekejam itu? Mereka. Mereka memaksaku untuk mengakhiri segalanya. Aku sudah pasrah saat itu. Gak kuat dengan hujaman kebencian yang terus-terus mereka berikan. Aku tak pernah ingin dipertemukan atau diperlakukan sekejam itu dengan mereka. Namu, Tuhan mengtakdirkan kebencian dalam hidupku.

Lalu buat apa aku hidup? Buat dihujam dengan kata-kata kasar dan cacian menyakitkan di seluruh akun sosial mediaku? Semua itu terjadi hanya karena mama. Mama dulu seorang bintang yang merusak sendiri sinarnya, karena sebuah cinta terlarang. Terus, apakah itu juga salahku?

Jika Tuhan memberikanku kesempatan untuk memilih, maka aku tak akan mau menjadi anaknya. Sayangnya, hidup bukan pilihan, hidup sebuah kewajiban. Namun, saat kuputuskan mengambil pisau dapur untuk mengakhir semuanya. Aku benar-benar jatuh, aku bisa gila jika setiap membuka media sosial, hanya kata-kata kasar dari mereka yang kutemukan.

Sejak itu, mama memaksa untuk menutup seluruh kegiatan dunia mayaku. Aku merasa bukan remaja sepenuhnya, sepi tanpa komunikasi.

****

 Nah, teman-teman. Melalui cerita singkat di atas. Gacil ingin memberikan gambaran betapa bahayanya jari-jari kita. Jika kita tak pernah mengedukasinya. Lihatlah Tiara, mungkin ia hanya satu dari jutaan korban, yang melenyapkan kehidupannya karena jari-jari yang tak pernah diedukasi. 

Ia remaja yang tumbuh dan butuh sosialisasi, mungkin salah satunya dengan dunia maya. Namun, itu tak ia dapatkan hanya karena egoisnya jari-jari kita, tanpa berdosa menulis kata-kata kasar di postingan si dia atau si ini. Padahal, kita tidak tau bagaimana kejadian yang sebenarnya.

Sumber google.com

Meskipun ia bersalah dan pantas dihujat. Selayaknya kita, memandang dari sudut kemanusian merasakan dari hati nurani. Walau sekedar kata-kata dampaknya luar biasa, bisa jadi merenggut satu jiwa. Tidak percaya? 

Langsung aja kita simak beberapa kasus-kasus Cyberbullying atau kejahatan di media sosial yang menewaskan puluhan jiwa, terkhususnya di kalangan remaja. Dikutip melalui https://www.liputan6.com sedikitnya ada enam kasus Cyberbullying yang terkenal dan terjadinya bunuh diri. 

Misalnya saja seperti kisah Megan Taylor Meier Perempuan yang tinggal di  Missouri, Amerika Serikat, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri atau gantung diri, beberapa minggu sebelum hari ulang tahunnya. Setelah diselidiki, polisi menemukan bukti bahwa Megan stres setelah mengalami cyberbullying lewat social media oleh temannya.

Hal ini seharusnya menjadi perhatian kita dalam bersikap, apalagi berkomentar dan memposting sebuah status di media sosial. Pastikan tidak akan menjatuhkan mental orang lain. Jika dalam kehidupan, mulut adalah harimaumu. Maka dalam bermedia sosial, jari bisa menjadi petaka dan bencana. 

Menurut student.cnnindonesia.com ada beberapa faktor yang menyebabkan Cyberbullying, di antaranya : Perasaan kesal, ikut-ikutan, karakter bawaan atau terpancing dengan hoax.

Seriusnya kasus ini, kita harus menyikapinya dengan serius, jangan sampai kita menjadi salah satu pelaku Cyberbullying itu sendiri. Stop berkomentar yang tidak jelas, membuat postingan yang menyakitkan perasaan orang lain atau saling mengolok-olok di kolom komentar yang ramai dibanjiri kata-kata kasar. 

Singkirkan hal tidak penting itu, manfaatkan jari-jemari kita untuk hal yang positif. Bisa dengan menulis? Menjadi Digital Literasi? Menjadi Blogger? Pembisnis Online? Youtubers yang mengcreat konten positif? Semua lebih bermanfaat daripada komentar tidak jelas.

Sumber google.com

Tulisan sederhana ini sengaja ditulis untuk mengikuti kompetisi dari @siberkreasi salah satu rangkaian Literasi Digital menuju Netizen Fair 2018. Bantu aku menjadi perwakilan kota Medan untuk bisa mengikuti kegiatan dari @keminfo. 


Sumber Instagram @siberkreasi



           

Reading Time:

Sabtu, 25 Agustus 2018

 Khafifah Lidiana Siregar  Harapan II Puteri Pariwisata Provinsi Sumater Utara 2018
04.520 Comments
            Kebahagian. Ya, itu kata yang tepat untuk menggambarkan makna kehidupan., menurut Khafifah Lidiana Siregar. Gadis kelahiran Medan, 1 Februari 2000. Anak pertama dari dua bersaudara. Dilahirkan dari pasangan Atas Siregar dan Nurgahani Harahap. Gadis dengan sejuta kegiatan positif ini, tengah mengenyam pendidikannya di Universitas Sumatera Utara, Fisip prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial.

Sosok Khafifah Lidiana Siregar

            Gadis yang hobi melakukan traveling ini merasa dalam kehidupannya tak pernah ada rasa kegagalan, semua yang ia jalanani selalu membawa kebahagian.

            “Pipa, Gak pernah sedih atau merasa gagal. Bahagia teruslah, dukanya dijadikan pelajaran aja,” ujar gadis yang menyapa dirinya dengan panggilan Pipa.

Selalu merasa bahagia, rasa itu membiarkannya merasakan berbagai pengalaman luar biasa, mulai dari menjadi Top 20 Puteri Muslima Muse Medan pada tahun 2016, Top 5 SemiFinalis Puteri Muslimah Medan Indonesia pada tahun 2017, Finalis Indonesia Youth Icon pada  tahun 2017, Finalis DUTA GenRe provinsi Sumatera Utara pada tahun 2017 dan 2018, Harapan II Puteri Pariwisata Provinsi Sumater Utara pada tahun 2018, Finalis Miss Global Provinsi Sumatera Utara 2018, hingga puncaknya menjadi Top 50 Besar Casting acting Production pada Layar Lebar Film Dilan.

Kegiatan positif yang dilakukannya semata-mata bukan hanya menyalurkan hobi dan bakat, namun keinginan membahagiakan kedua orang tua yang begitu besar, menjadikan Khafifah gadis yang cukup positif pada umurnya, di masa remaja.

Menurutnya, diri sendirilah yang pantas dijadikan motivator dalam perjalanan hidup. Tidak ada yang mampu membuat pikiran dan raga bergerak menjalankan hal positif jika tak ada keinginan diri sendiri untuk menjadi positif dan bermanfaat bagi orang lain.

            Pencapaian yang telah ia raih hingga saat ini, tak membuatnya cepat merasa puas. Masih banyak impian yang ingin ia capai. Namun, saat ditanyakan apa impian tersebut. Gadis berwajah jelita ini, menjawab dengan makna tersirat.

            “Impian saat ini. Hem, Ya buat orang lain tersenyum. Pipa percaya, kita dilahirkan karena orang lain butuh tangan kita. Butuh bantuan kita,” tuturnya.

            Melihat kondisi remaja saat ini, Khafifah cukup perihatin. Banyak remaja yang terjerumus pada pergaulan yang menghancurkan diri mereka. Gadis yang tinggal di Tembung, menyampaikan sepenggal kalimatnya untuk remaja-remaja seuisianya yang mungkin sedang membaca tulisan ini.

            “Ya, semoga ada remaja yang mampir di tulisan ini dan membaca pesan singkat dari pipah untuk mereka. Gak mau menggurui, pipa cuman mau ngajak ke mereka. Bahagia yang berkualitas yuk,” ujar Khafifah menutup merbincangan.

            Menurutnya, hakikat bahagia ialah bahagia pada pencapaian postif, bukan sekedar bahagia yang dapat dirasakan sesaat namun berdampak negatif di kemudian hari.

#Ceritagadiskecil
Reading Time:

Sabtu, 21 Juli 2018

Jatuh Cinta
08.340 Comments

”Kerap kali aku tergoda pada perasaan hanyut, pada wajah yang teduh, pada tutur yang menyenangkan hati”

Koleksi Ceritagadiskecil.com

 Aku seorang remaja yang memiliki ambisi dan mimpi, yang belum sepenuhnya kuraih. Sering merasakan kegagalan, diremehkan dan harus berjuang mati-matian demi mendapatkan apa yang kuinginkan.

            Mungkin, seuisiaku pembasahan tentang jatuh cinta, pacaran dan gebetan itu menyenangkan. Tapi tidak bagiku. Mimpi dan ambisi untuk menjadi yang terbaik, pembahasan menarik yang selalu menyenangkan hati. Ah, akukan hanya remaja yang memiliki standar kecantikan minimalis. Emangnya ada yang jatuh cinta padaku? Ada yang menyukaiku seperti halnya teman-temanku yang mulai pacaran dan berbagi cinta pada lawan jenisnya. Sedangkan aku? Gadis cupu yang berteman dengan buku, informasi dan tumpukan tugas yang selalu kukerjakan serius. Aku selalu berkata, ah cinta itu omong kosong. Toh, selama ini tidak ada yang jatuh cinta padaku, mungkin karena aku tidak cantik.

            Aku terus fokus pada deretan impian dan ambisi yang kutuangkan dalam secarik kertas, tertempel di dinding kamar. Satu persatu, deretan itu mulai terpenuhi tanda ceklis, bukti dari pencapaian yang telah kutaklukan. Menjadi juara kelas, memenangkan perlombaan, mendapatkan penghargaan sudah kucapai. Tapi aku merasa hampa, karena aku jauh dari pertemanan, enatah kenapa hal sepele itu malah mengusik emosional. Namun, untungnya aku tak larut dalam kesedihan mengenai persoalan tak memiliki teman dekat. Dalam kesedihan, menerima kenyatan menjadi seseorang yang unggul akan diperolok-olokan karena keirian yang tak sesuai. Mereka, boleh saja tak mau berteman denganku. Tak masalah, aku harus tetap fokus untuk mencapai apa yang kumau.

            Ketika berjalan, berada di tempat yang sepi ataupun dalam kesendirian, aku selalu menekankan, aku masih gadis kecil yang tak cantik dan tak memerlukan cinta buta. Aku masih seorang anak yang bau kencur yang tak perlu mengenal cinta lawan jenis. Oleh sebab itu, ketika aku jatuh cinta pada seseorang aku selalu mencoba mencari keburukannya agar aku tak larut, dalam rasa yang menghanyutkanku pada persepsi yang salah. Benar saja, cara itu ampuh dan benar. Sampai saat ini, aku tak pernah memiliki seorang pacar, aku menjaga diri dengan pemikiran alam bawah sadar. Aku gadis yang belum cantik, belum pintar dan belum layak untuk melakukan pacaran. Namun, jika sudah saatnya nanti. Ketika aku sudah pintar, cantik dan memang waktunya untuk jatuh cinta, maka akan kubuka hati untuk orang yang benar-benar pantas untuk masuk dalam kehidupanku sampai mati.

            Aku tak memaksa remaja manapun untuk mengikuti caraku ini dalam menolak pacaran di usia muda. Tapi aku memaksa mereka untuk menjaga batasan ketika merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta itu wajar, normal rasanya jika menyukai seseorang yang menghanyutkan hati, memiliki tutur kata yang lembut dan memberikan perhatian lebih. Tapi ingatlah, apakah sikapnya yang membuat kita jatuh cinta itu benar-benar tulus ataupun apadanya? Atau ia hanya seseorang yang dikirimkan Allah untuk menguji sebesar apa kita menjaga diri? Lihatlah, mereka-mereka di sekelilingmu yang tergoda akan rasa cinta sesaat, apakah mereka bahagia? Apakah hidup mereka lebih baik? Jawabannya tidak. Kebanyakan dari mereka, dari lubuk hati meraka paling dalam, mereka sangat menyesal tergoda akan cinta sesaat. Bahkan karena cinta sesaat, banyak dari kita sebagai remaja, melanggar norma dan menjadi seorang ibu diumur yang tak seharusnya.

            Jagalah diri, katakanlah, saat ini aku tak cantik, aku belum pintar, aku belum pantas merasakan jatuh cinta. Maka, fokuslah pada perbaikan diri, baik fisik ataupun hati. Percayalah, jika memang sudah saatnya, maka cinta yang sesungguhnya Allah hadirkan untuk menjaga bukan merusak kita.

            Ini caraku menjaga diri dari rasa hanyut pada seseorang yang terkadang membuatku lupa, bahwa aku masih banyak pencapaian yang harus kucapai.

#Ceritagadiskecil
Reading Time:

Kamis, 31 Mei 2018

Mengenal Raihanita Madira  Runer Up I Indonesia Youth Icon 2017
05.270 Comments
Raihanita Madira

Menurutku, hidup adalah perjalanan. Perjalanan dalam berusaha, gagal, bangkit, dan sukses menjadi rangkaian peristiwa yang membuatku merasa hidup. Namun perjalanan selalu memiliki tujuan pemberhentian, yaitu surga. Begitulah Raihanita Madira Brillianti Ainul Mardiah Simartha Ardhana memandang kehidupan. Gadis kelahiran Palembang, 11 Februari 2001, anak pertama tiga bersaudara dari pasangan Ningsih Jumiani dan Tata Padang Simartha, saat ini telah menyelesaikan pendidikannya di SMA Al Azhar Medan, jurusan IPA. 

Gadis yang gemar menulis telah menuangkan ide-ide menggelitiknya dalam sebuah situs media online seperti ask.fm. 

“Aku sejak zaman SMP suka nulis di ask.fm, bisa di search ask.fm namanya Raihanita Madira dan akunnya udah terverified alias ada centang birunya. Nah, kalau sekarang aku udah kurang aktif di ask.fm, soalnya jarang banget yang menggunakannya. Jadi, sekarang lagi suka nulis berbentuk sajak dalam bahasa indonesia dan inggris yang suka aku kirimkan ke official akun di Line,” tutrur Nita saat menceritakan kegemaran menulisnya.

Selain menulis, ia juga mengimbanginya dengan membaca. Saat ini, ia mulai tertarik mempelajari bahasa isyarat. Nita memuaskan kemauan belajar bahasa isyaratnya secara otodidak, mulai dari menonton video bahasa isyarat di internet.

 “Aku saat ini belum kuliah jadi untuk mengisi waktu luang, terkadang aku nyanyi dengan gerakan bahasa isyarat. Kemarin, saat kegiatan Rembuk Remaja, aku sempat menampilkan sebuah lagu dan bahasa isyarat, memotivasi teman-teman yang lain agar mereka bisa lebih peka dan perduli kepada teman-teman yang memiliki keterbatasan pendengaran di Indonesia ,” ujar Nita ketika menjelaskan kegemarannya saat ini.

Mengawali proses pencapaian prestasi sejak belia. Nita, berangkat dari penghargaannya saat duduk di bangku sekolah dasar, ia sempat menjadi juara ketiga dalam perlombaan Gaming. Nita mengaku, sejak dulu ia sempat tertarik pada dunia gaming edukasi, permainan yang ia gemari adalah Bobby Bola, sebuah game yang mengedukasi menurutnya. Prestasi yang diraihnya terus berlanjut, saat kelas lima sekolah dasar, ia juga sempat menjadi Top 50 Jagoan Cerdas Indonesia di Medan, audisi bakat yang diadakan oleh sebuah televisi swasta MNCTV bersama Clevo dan Koran Anak Berani. Tidak hanya itu, akademik yang dicapainya saat sekolah dasar cukup gemilang, ia menjadi lulusan dengan nilai UN terbaik kala itu.

Prestasi yang diraihnya tak terhenti sampai di bangku sekolah dasar, ia terus mencapai bermacam penghargaan, seperti Top 10 TOEFL Test yang diadakan oleh Primagama, menjadi perwakilan sekolah mengikuti lomba pidato bahasa inggris atau English Speech Contest yang meraih peringkat Top 20 se-kota Medan. Bersama timnya, ia juga meraih juara ketiga dalam lomba recycle yang diadakan oleh Pertamina. Paling berkesan menurutnya, ketika ia  meraih juara Runner Up I Indonesia Youth Icon 2017 versi YBJI saat kelas tiga SMA. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia juga dipercaya menjadi perwakilan komunitas, mengikuti kegiatan Rembuk Remaja Indonesia, chapter Indonesia Bagian Barat yang diadakan di Tangkahan.

Raihanita saat mengikuti ajang Indonesia Youth Icon 2017

Peran serta orang tua membentuk Nita menjadi gadis yang penuh prestasi. Menurutnya, orang tua merupakan sosok penyemangatnya dalam hidup. 

            “Terutama ibuku. Banyak kata - kata motivasi yang aku tulis berasal dari nasihat ibu. Dari ayahku, aku belajar untuk menjadi sosok yang tegas dan punya prinsip. Aku belajar berusaha lebih keras dan memiliki keyakinan untuk berhasil saat diterpa cobaan. Aku belajar untuk berusaha memberikan sesuatu secara 'perfect', belajar mengerjakan sesuatu secara rinci dan teliti dari ayah. Sedangkan Ibu, membentukku menjadi orang yang kuat dan tegar. Aku menjadi sosok yang sabar dan ikhlas apabila mengalami kegagalan atau kesedihan. Belajar bahwa meninggalkan sesuatu yang kelihatan rusak bukanlah hal yang terbaik untuk dilakukan,” Orang tua sangat membantunya dalam menelusuri jalan kehidupan, karena itu Nita selalu melakukan yang terbaik agar tak mengecewakan.
            Namun, di balik semua prestasi yang telah dicapai. Perjalanan hidup Nita tidak selalu mudah dan mulus, kerap kali ia mengalami jatuh bangun dalam langkah kemenangan.

            “Wah, aku sangat banyak mengalami jatuh bangun dalam kehidupan. Namun yang paling melekat padaku adalah sewaktu SMP, aku sempat berada dalam lingkungan yang tidak baik. Lingkungan itu membentukku menjadi seseorang yang kasar, tidak patuh kepada orangtua, sering mengeluarkan kata - kata kotor yang tidak pantas, bahkan bolos sekolah. Lalu suatu kejadian, membuatku tersadar bahwa hal seperti itu tidak baik. Kejadian saat aku jatuh sakit, pada bulan Desember 2014. Aku diopname karena sakit typhoid aatu biasa kita kenal penyakit tifus,” Gadis kelahiran Palembang ini tampak menyesali kesalahannya ketika terpengaruh pada pegaulan yang salah.

            Masih banyak mimpi yang harus dicapai, harapan dan keinginan dalam hidup memotivasinya selalu berusaha sebaik mungkin, “Impian jangka pendek, saat ini aku sedang berencana membangun bisnis sendiri dari awal. Selain itu, aku juga lagi berusha menggerakkan organisasi supaya lebih aktif. Mohon doanya juga, sekarang Aku juga lagi coba apply ikut program jurnalistik atau kepenulisan. Dan, untuk jangka panjangnya, aku ingin menerbitkan sebuah buku, membuat rekaman dan lagu sendiri. Terus, berharapnya bisa pergi ke luar negri karena prestasi,” jelas gadis yang penuh mimpi dan harapan.

            Setiap remaja dapat mengukirkan prestasi, melakukan hal positif dan bermanfaat bagi orang lain. Keadaan remaja yang sangat krisis moral, membuat Nita perihatin. Ia menutup kisahnya dengan menyampaikan secuil pesan kepada remaja-remaja berbakat di luaran sana agar tidak terpengaruh terhadap pergaulan.

            “Jadilah remaja berkepribadian 3A. Abhipraya, Abhinaya dan Abhitah. Punya harapan, semangat dan pemberani. Jangan hanya diam dan memperhatikan kesuksesan orang lain. Bergeraklah, maju! ciptakan kesuksesan dengan caramu sendiri. Bahagiakanlah orang-orang di sekitarmu, banggakan negrimu. Buatlah mereka semua bangga. Jadikan keberadaanmu berarti bagi semua orang. Jangan lelah untuk menebarkan senyum dan kebaikan,” tutur Nita saat mengakhiri obrolan singkatnya bersama Gadis Kecil.

Oh iya, btw si Nita ini teman sebarak atau sekamar Gacil waktu mengikuti ajang Indonesia Youth Icon 2017 loh. Bedanya kami, si Nita mendapat Runer Up, Gacil hanya sebagai finalis. 

#CeritaGadisKecil
Reading Time:

@way2themes