Lifestyle dan Food Blogger Medan: Tips
Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Februari 2019

Lifestyle Blogger Medan - 4 Hal Yang Membuat Sebuah Komunitas Mati Suri Versi Cerita Gadis Kecil
19.59 14 Comments

Lifestyle Blogger Medan - Moshi...Moshi.... Sesekali nyapa teman Gacil dengan bahasa Jepang tak apa ya. Tulisan kali ini, Gacil mau berbagi sedikit pengalaman Gacil dalam berorganisasi ataupun berkomunitas. Beberapa komunitas yang pernah Gacil jajali yaitu, komunitas Film Medan Art of Cinemathogragraphy, Fisabilillah Production, Teenages Pictures. Kemudian komunitas literasi seperti Melek Media, FLP Medan dan Blogger Sumut. Lalu, organisasi kepemudaan Karang Taruna kota Medan.


Di antara komunitas dan organisasi tersebut, Gacil masih aktif hanya di FLP Medan dan Blogger Sumut. Kemudian, saat flashback ke beberapa komunitas ataupun Organisasi yang telah Gacil tinggalkan. Terbesit dipikiran Gacil. Apa ya yang membuat Sebuah Komunitas Mati Suri? Bahasa sederhananya 'Bubar atau Vakum'. Berikut 5 hal yang menjadi penyebabnya versi Cerita Gadis Kecil .

1. Semangat di Awal

Awal kali berkomunitas mengenal Medan Art Of Cinemathography

      Membuat sebuah komunitas memang sangat mudah, namun membangunnya belum tentu semua bisa. Ya, awal kali sebuah komunitas dibentuk, tentulah ada persamaan hobi maupun tujuan. Banyak rencana dan visi misi yang ingin diwujudkan. Namun, tidak semua yang dibicarakan terniatkan dalam hati. Jadinya, hanya semangat di awal saja.Ini hal sederhana membuat Sebuah Komunitas Mati Suri,

2. Terlalu Banyak Pemimpin

Forum Lingkar Pena Medan komunitas asik yang tidak mengekang dan erat persaudaraannya

       Sepatutnya dalam suatu organisasi atau komunitas, ada satu orang pemimpin yang dapat memandu, mengarahkan kemana arah organisasi/komunitas berlaju. Namun, pada nyatanya, penyebab mati surinya sebuah komunitas, disebabkan karena banyaknya orang yang ingin menjadi pemimpin, banyak orang yang ingin berkuasa dan banyak pengaruh-pengaruh yang tak sejalan. Sehingga arah laju organisasi atau komunitas, memiliki jalan yang bercabang. Ujung-ujungnya terjadi pertengkaran dan bubar.

3. Berkelompok-Kelompok

Pertama kalinya, ikut organisasi di Lingkungan sekitar rumah. Karang Taruna Medan

      Selain terlalu banyak yang ingin menjadi pemimpin di dalam sebuah komunitas atau organisasi. Berkelompok di dalam sebuah kelompok pun sering terjadi. Saling menceritakan teman sekomunitas atau seorganisasinya di belakang. Sehingga kekompak-kan pun tidak terjalin lagi. Si A dan Si B saling menjatuhkan padahal satu komunitas. Ada kelompok yang pro dengan si A ada juga kelompok yang pro dengan si B.

4. Memiliki Aktivitas Masing-Masing

Saat ini, hanya bergabung di Blogger Sumut, FLP Medan dan Karang Taruna

    Aktivitas individu yang ada di dalam komunitas atau organisasi tersebut. Sangat besar pengaruhnya terhadap bertahannya sebuah komunitas. Jika hari pertama pertemuan di dalam komunita. Maka, akan terlihat begitu banyak anggota dan keakraban. Jika sudah pertemuan kelima dan keenam. Bisa jadi, hanya ketuanya saja yang hadir, atau tidak pernah ada pertemuan karena bentroknya jadwal antar individu.

Bagaimana menurut teman Gacil? Apa yang membuat 'Mati Suri' sebuah komunitas atau organisasi?

#Ceritagadiskecil






Reading Time:

Selasa, 15 Januari 2019

Lifestyle Blogger Medan - Belajar dari Seorang Wanita yang Membuat Polisi Terdiam
03.27 15 Comments


 Hukum, Politik, Pemerintahan itu sangat menyebalkan untuk dibahas. Jika bicara tentang hukum dan politik. Pasti ujung-ujungnya akan ada perdebatan dan kontroversial. Pilih nomor berapa? Nomor ini aja blabla... Nomor itu aja blabla... Semua orang punya argumen dan opininya masing-masing tentang politik di Negeri ini. Lucunya, sikap saling menghormati atas opini orang lain sangat minim di Negei ini. Ah, sudahlah ya. Toleransi emang sulit ditemui pada zaman ini.

Tulisan Gacil kali ini, bukan ingin membahas politik maupun partai apalagi tentang Capres. Gacil merasa hal ini harus Gacil tulis sebagai reminder kita. Baik;ah. Beberapa waktu lalu, saat Gacil hendak berselancar ke Youtube untuk mencari bahan pelahjaran SBMPTN. Biasalah, pejuang SBMPTN pasti makananya soal mulu. Sejarah, Ekonomi, Sisiologi mulai menyelimuti malam-malam Gacil hahah. Lanjut, di halaman utama youtube. Mata Gacil ketarik, eh tertarik pada satu judul video seperti ini 'Viral. Polisi Terdiam Ditantang Wanita Paham Hukum'. Secara manusiawi, Gacil penasaran dong. Eh, jari ini ngeklik itu video yang berdurasi lebih dari lima menit.

Gacil tonton video tersebut sampai habis. Dimenit awal video, rasa penasaran Gacil semakin kuat. Pasalnya, terjadi sebuah pertengkaran anggun namun tampak memalukan. Di video tersebut, seorang Wanita yang masih terlihat muda, berpakaian syar'i serba pink dengan napasnya yang tesengal-sengal menahan emosi. Melontarkan kalimat yang membuat semua polisi terdiam, kurang lebih seperti ini kalimatnya "Saya butuh! Mana? Mana Amar Keputusannya Mana? Saya anak polisi, Saya taat aturan hukum. Mana? Kalian jangan asal saja!!" Wanita tersebut dengan nada emosi namun tetap tenang, membuat terdiam para gerombolan polisi yang hendak menggusur rumahnya.

Tampak sama sumber by Google

Dari menit pertama hingga akhir. Video yang direkam di Luwuk Sulawesi Tengah, membuat Gacil tersenyum miris. Ditambah kalimat yang terdapat di video membuat Gacil terpekik, 'Memanggil Keadilan di Tanah Kelahiran' . Inti dari video tesebut. Seorang wanita dengan pakaian syar'i-nya dan mengaku sebagai anak polisi, tak takut kepada polisi karena ia merasa benar. Wanita tersebut, masih dengan tenang dan nada suara tinggi terus meminta 'Amar Keputusan' atau perintah keputusan penggusuran atas rumahnya kepada para polisi yang bertugas. Namun, apa? Polisi yang ada di sana hanya diam dan tak menghiraukan  wanita tersebut. Tetapi, wanita tersebut terus miminta dan tidak ada respon dari polisi.

Miris. Gacil tidak tau apa yang terjadi pada negeri ini. Namun dari video berdurasi lima menit lebih. Gacil belajar. Siapapun dan apapun profesi kita. Seharunya, sebagai warga dan rakyat yang tinggal di negara hukum. Kita paham akan hukum. Seperti sang wanita yang terdapat dalam video. Ia tau hukum, ia menyuarakan kebenaran. Seandainya saja ia tidak tau hukum, mungkin ia hanya terdiam melihat rumahnya digusur.

Tidak hanya hal besar bahkan sampai ke hal terkecil. Ada apa dengan negeri kita? Apakah Negeri ini baik-baik saja? Ya, negeri ini tentu baik-baik saja. Hanya orang-orangnya saja yang seharusnya butuh perbaikan.

Teman Gacil. Yuk yang penasaran sama videonya. Tonton langsung. Klik video di bawah ini. Jika sudah selesai nonton. Berikan opini kamu tentang video tersebut ya... Kita sharing sama-sama. Berbagi ilmu dan opini.



#Ceritagadiskecil
Reading Time:

Jumat, 04 Januari 2019

Lifestyle Blogger Medan - Berkarya untuk Popularitas atau Kreativitas?
08.22 14 Comments


Dokumen By Ceritagadiskecil
Menulis sudah menjadi kebiasaan Gacil waktu SD dulu. Nulis apa? Apa aja yang terjadi pada saat itu. Nulis di buku diary harga lima belas ribu. Buku diary warna pink yang Gacil hiasi dengan foto Morgan Oey. Idola Gacil pada waktu itu. Siapa sih yang gak tau kegilaan Gacil pada pria yang sempat menjadi personil boyband kala itu. Guru les bahkan, menjanjikan Gacil tiket konser untuk melihat boyband itu. Jika Gacil bisa mendapat nilai Try Out tertinggi di kala itu. Benar saja, Gacil belajar dan berusaha mendapatkan nilai tertinggi. Demi mendapatkan tiket konser itu. Eh, setelah berhasil dapatkan nilai tertinggi, ternyata Gacil dibohongi, Boyband itu tak ada jadwal konser di kota Gacil. Salut! Guru Gacil cukup cerdik mendidik Gacil kala itu.

Kenangan Buku Diary pada masa SD

Back to topik. Gacil mulai menulis serius ya karena Kak Morgan. Dulu, dari SD sampai SMP ngidolain dia banget. Semua cerpen Gacil pemeran prianya pasti nama Morgan. Menulis menjadi hobi pada saat itu. Nulis puisi dan cerpen. Hingga saat ini, menulis sudah menjadi kebutuhan. Merampungkan Novel ketiga untuk di tahun 2019, doakan ya teman-teman. Berawal dari nulis cerpen yang di share di facebook dan grup, lalu berproses menulis novel cemeeh yang Gacil tulis pada SMP kelas tiga. Lanjut, berproses menulis novel yang lebih baik berjudul Sensei, kemudian menulis di koran, menulis di dinding dan kope’an eh bercanda deng. Gacil gak pernah ngopek loh ya. Nyontek sering haha. Terus menulis, menulis apa saja yang Gacil rasa perlu ditulis. Dulu, awal kali nulis gak punya beban apa-apa. Gak mikiri EYD atau plot alur dan ending semua mengalir begitu saja. Sekarang, belajar dan mulai memahami EYD walau terkadang itu menghambat kejujuran dalam menulis, tapi harus diperbaiki.

Saat ini, mempelajari EYD sedikit demi sedikit. Menulis tetap mengalir, tanpa outline atau kerangka. Seperti tulisan ini, mengalir begitu saja diketik dengan dua jari. Maklum gak pande sepuluh jari, lebih nyaman dua jari, eh sebelas jari deng. Menulis apa yang ingin hati sampaikan. Itu prinsip Gacil dalam menulis apapun itu. Menulis seperti bertutur, menulis apa adanya tanpa membohongi rasa. Semua mengalir begitu saja.

Ecek-eceknya candid

Lalu, tak sekedar menulis. Gacil sempat ngeyoutube di tahun 2017. Vakum di tahun 2018 hingga sekarang karena fasilitas yang terbatas. Menulis dan Ngeyoutube apakah sekadar hobi Gacil? Tentu tidak! Kala itu, menulis dan ngeyoutube dua hal yang sering digembar-gemborkan cara mudah menjadi terkenal karena menulis di blog atau ngeyoutube. Dua kegiatan ini, juga sering dielu-elukan karena dianggap menghasilkan banyak uang. Gacil tergiur untuk mati-matian ngeyoutube biar subscribernya banyak dan diadsesnse terus dapat uang dan terkenal pula.
   
Konten youtube jenis ini dan itu sudah pernah Gacil cobain, kecuali konten tit…. Hahah. Iya, jangan sampe deh. Konten tutorial make up, konten jalan-jalan atau apapun itu sudah Gacil coba. Bagitu juga dengan nulis, Gacil nulis sebagus bagusnya untuk dilombakan, di share sana sini biar dikenal dan dapat banyak uang. Tapi apa? Gacil dapat banyak pembelajaran. Semua ambisi, konten-konten yang Gacil anggap bagus itu, hanya palsu. Gacil niat membuatnya hanya untuk popularitas dan uang. Hingga, Allah tak pernah mengijinkan Gacil mendapatkannya. Gacil lelah buat konten youtube karena uang dan popularitas juga tak Gacil dapat. Begitu juga nulis, karena niatnya uang dan popularitas akhirnya Gacil gak pernah menang.

Namun, setelah niat-niat tak baik itu. Gacil tetap membuat konten yang sesuai Gacil inginkan, tanpa memikirkan adakah yang subscribe, adakah yang ngelike? Kali ini tidak. Gacil membuatnya mengalir begitu saja.

Ternyata, niat memang penentu hasil. 

Gacil senang membuat konten yang sesuai hati Gacil. Eh, Allah membalasnya dengan yang tak pernah Gacil sangka-sangka. kali ini Gacil membuat konten, tak bermaskud mengejar uang dan popularitas. Semata-mata Gacil hanya ingin berbagi saja. Tapi, Allah memberikan Uang dan Popularitas yang sewajarnya.


Berkarya untuk Kreativitas

Misalnya saja, kala itu Gacil pernah membuat konten youtube Wisat T-Garden yang begitu terkenal saat ini. Nah, saat membuat konten itu. Gacil gak pernah membayangkan mendapatkan banyak viewers dan subscribers yang banyak. Saat itu, niatnya hanya untuk kesenangan dan tugas sekolah. Kesenangan karena Gacil hobi jadi reporter-reporter gitu. Eh, Gak taunya konten yang ini buming dan mendapatkan hampir 64ribu viewers. Gacil dikenal beberapa orang di kampung karena konten yang juga tak Gacil sangka-sangka banyak yang suka.

 Konten Gacil T-Garden

Teman-teman, tulisan ini Gacil posting bukan semata-mata ingin bersombong diri. Tidak! Gacil hanya ingin berbagi. Berbagi tentang berkarya untuk kreativitas bukan popularitas. Jika teman-teman Ngeyoutube dan Ngeblog hanya karena Popularitas dan Uang semata, teman-teman tidak salah. Gacil juga tidak munafik. Hanya saja, niatnya kurang benar. Popularitas dan Uang hanyalah nomor sekian. Berkaryalah karena teman-teman suka, karena teman-teman menganggap. Melalui karya teman-teman bisa bermanfaat dan dapat berbagi. Berkaryalah dengan iklas dan jujur tanpa bohong pada diri sendiri.

Apa cerita teman-teman selama ini? Proses apa yang paling dinikmati selama berkarya? Berkarya untuk apakah? Uang? Popularitas? Atau Kreativitas?

#Ceritagadiskecil
Reading Time:

Kamis, 30 Maret 2017

Lifestyle Blogger Medan - Tidak Perlu Takut Buat Film, Pusat Perkembangan Film Telah Menyediakan Fasilitas!
21.281 Comments

  
          Ceritagadiskecil.com | Dalam diskusi singkatnya perwakilan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan soal fasilitas untuk sineas. Kamis (3/30) di Taman Budaya Sumatera Utara tengah diadakannya diskusi singkat mengenai ‘Film dan Masyarakat Film’. Acara yang digelar untuk memperingati hari film nasional, dihadiri siswa, mahasiswa, dan insane perfilman lokal.

            Diskusi singkat tersebut dibawa oleh perwakilan menteri pendidikkan dan kebudayaan, Ibu Marlina dari Puast Perkembangan Film. Semua peserta yang menghadiri acara diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi langsung dengan Ibu Marlina. Diawali dengan sesi tanya jawab, banyak peserta yang mempertanyakan soal fasilitas yang disediakan oleh Kementrian Kebudayaan.

            “Bagaimana soal fasilitas yang diberikan oleh Pusat Pengembangan Film? Dan Berapa lama proses untuk mendapatkan fasilitas tersebut?” tanya salah seorang peserta.

            Dengan sigap Ibu Marlina mencoba menjelaskan tentang program fasilitas pembuatan film yang diberikan oleh Pusat Perkembangan Film. “Ya, kita memiliki program pemasilitasan untuk komunitas dan sekolah yang ingin membuat film. Dana tersebut akan dikasih kepada komunitas atau sekolah yang telah mengirimkan proposal yang sesuai dengan  prosedur sesuai SOP yang telah dijabarkan dalam website kita Pusat Perkembangan Film. Kita tidak hanya memberikan fasilitas, namun kita juga gencar melakukan kegiatan seperti seminar atau workshop film di masing-masing daerah. Jadi, kami berharap agar sines-sineas yang ada di Indonesia tidak menyia-nyiakan program ini,” tutur Ibu Marlina.

            Sineas kota Medan, khususnya para pelajar merasa kesulitasn soal dana untuk memproduksi film hal tersebutlah yang menjadi kendala mereka dalam membuat film. Salah seorang pelajar asal Kota Medan, berharap dengan adanya program teresebut bisa membantu pelajar sepertinya yang ingin mewujudkan mimpi untuk membuat film bisa tercapai.

            “Ya, semoga aja dengan adanya program ini, Aku dan kawan-kawan bisa lebih giat lagi untuk produksi film kreatif dan bermanfaat untuk banyak orang,” harap Venny.

#Ceritagadiskecil


Reading Time:
 Pusat Perkembangan Film Mengatakan Kurangnya Kritikus Film, Membuat Film Indonesia Tidak Berkualitas!
20.590 Comments
Ibu Marlina dalam diskusinya


           Ceritagadiskecil.com | Dalam puncak perayaan hari film Nasional, Kota Medan kedatangan menteri pendidikan dan kebudayaan Pusat Perkembangan Film. Kamis (30/3), di Taman Budaya Sumatera Utara tengah di gelar perayaan untuk memperingati hari film Nasional. Dalam puncak acara tersebut hadir sineas-sineas dari berbagai komunitas film di Medan. Acara digelar dengan menyajikan pameran sejarah film, workshop dan diskusi film serta nonton film bareng.

            Acara ini dibuat oleh beberapa komunitas film di kota Medan seperti Kofi Sumut dan Manu Project. Tidak hanya menghadirkan materi dari insan perfilman lokal, namun dalam acara yang dilaksanakan kurang lebih dari pukul 9.00 wib – 22.00 wib tersebut mengundang pihak pusat kementerian pendidikkan dan kebudayaan Pusat Perkembangan Film.

            Dalam materi yang diberi tema ‘Film dan Masyarakat Fim’ Ibu Marlina dari pihak kementrian pusat menyampaikan banyak hal mengenai perkembangan perfilman di Indonesia. Salah satu penyampaiannya yang menarik adalah kurangnya krtitikus film di Negeri ini, sehingga film Indonesia masih memiliki kualitas yang standart.


            “Film itu seperti senjata untuk menjajah. Film lebih kejam dari boom yang hanya sebentar saja menghancurkannya. Namun, film itu bisa menghancurkan Negara. Nah, sekarang masyarakat film harus sadar dan melek untuk memilih tontonan mereka. Karena banyak tontonan yang hanya sekedar menjual namun tidak memiliki pesan moral di dalamnya. Sebenarnya, di Negara kita ini kekurangan kritikus film yang bisa membangun dan mendobrak kualitas perfilman kita agar memiliki nilai pendidikan di dalamnya. Ayoo.. kita sebagai masyarakat film mencoba untuk jeli terhadap film-film yang kita tonton. Cobalah untuk mengkritisi film yang kita lihat,” papar Ibu Marlina dalam wacananya.

#Ceritagadiskecil


Reading Time:

@way2themes